1. Pengertian
Retardasi Mental
Retardasi
mental adalah sebuah kondisi di mana kemampuan intelektual seseorang di bawah
rata-rata (IQ di bawah 70) dan terdapat gangguan dalam perilaku adaptif.
Perilaku adaptif merupakan kemampuan seseorang dalam membina hubungan sosial
dan menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari.
Retardasi
mental atau yang sekarang sering disebut dengan disabilitas intelektual ini bukanlah
merupakan suatu penyakit, meskipun terdapat patologis yang terjadi pada otak. Banyak
anak dengan retardasi mental menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu,
terutama bila mereka mendapatkan dukungan, bimbingan, dan kesempatan pendidikan
yang besar.
Kriteria diagnostik retardasi mental
menurut DSM-IV- TR yaitu :
1.
Fungsi intelektual yang secara
signifikan dibawah rata-rata. IQ kira-kira 70 atau dibawahnya pada individu
yang dilakukan test IQ.
2.
Gangguan terhadap fungsi adaptif paling
sedikit 2. misalnya komunikasi, kemampuan menolong diri sendiri, berumah
tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan keamanan.
3.
Perkembangan gangguan terjadi sebelum usia
18 tahun.
2. Tingkatan
Retardasi Mental
·
Retardasi mental ringan,
pada tingkat ini seseorang memiliki jangkauan IQ sekitar 50-55 sampai 70.
Sekitar 85 % dari orang yang terkena retardasi mental. Pada umumnya anak-anak
dengan retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak
tingkat pertama atau kedua disekolah.
·
Retardasi mental sedang,
pada tingkat ini seseorang dapat mengambil bagian dalam kegiatan sosial yang
sederhana, memiliki jangkauan IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari
orang yang terkena retardasi mental.
·
Retardasi mental berat,
pada tingkat ini seseorang memiliki gangguan motorik, perkembangan abnormal
dari sistem saraf pusat yang parah dan memiliki jangkauan IQ sekitar 20-25
sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang terkena retardasi mental.
·
Retardasi mental berat sekali,
pada tingkat ini seseorang tidak dapat memahami atau mematuhi permintaan atau
instruksi, membutuhkan bantuan konstan dan pengawasan dan memiliki IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 %
dari orang yang terkena retardasi mental.
3. Sindrom Down
Sindrom down, merupakan bentuk
retardasi mental kromosomal yang paling sering dijumpai, di identifikasi untuk
pertama kalinya oleh Langdon Down pada tahun 1866. Gangguan ini disebabkan oleh
adanya sebuah kromosom ke 21 ekstra dan oleh karenanya sering disebut dengan
trisomi 21. (Durand, 2007).
Anak retardasi mental
yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau
Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antara 20 – 60, dan rata-rata mereka
memliki IQ 30 – 50. (Wade, 2000, dalam Nevid 2003). Menyatakan abnormalitas
kromosom yang paling umum menyebabkan retardasi mental adalah sindrom down yang
ditandai oleh adanya kelebihan kromosom atau kromosom ketiga pada pasangan
kromosom ke 21, sehingga mengakibatkan jumlah kromosom menjadi 47.
Anak dengan sindrom
down dapat dikenali berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu, seperti wajah bulat,
lebar, hidung datar, dan adanya lipatan kecil yang mengarah ke bawah pada kulit
dibagian ujung mata yang memberikan kesan sipit. Lidah yang menonjol, tangan
yang kecil, dan berbentuk segi empat dengan jari-jari pendek, jari kelima yang
melengkung, dan ukuran tangan dan kaki yang kecil serta tidak proporsional
dibandingkan keseluruhan tubuh juga merupakan ciri-ciri anak dengan sindrom
down. Hampir semua anak ini mengalami retardasi mental dan banyak diantara
mereka mengalami masalah fisik seperti gangguan pada pembentukan jantung dan
kesulitan pernafasan. (Nevid, 2003)
4.
Fragile X syndrome
Fragile X syndrome
merupakan tipe umum dari retardasi mental yang diwariskan. Gangguan ini
merupakan bentuk retardasi mental paling sering muncul setelah sindrom down
(Plomin, dkk, 1994, dalam Nevid, 2003). Gen yang rusak berada pada area
kromosom yang tampak rapuh, sehingga disebut Fragile X syndrome.
Perempuan biasanya
memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu. Pada perempuan,
memiliki dua kromosom X tampaknya memberikan perlindungan dari gangguan ini
bila kerusakan terjadi pada salah satunya. Hal ini dapat menjelaskan mengapa
gangguan ini umunya akan berdampak lebih parah pada laki-laki daripada
perempuan. Namun demikian, mutasi ini tidak selalu terlihat. Banyak perempuan
dan laki-laki yang mengalami mutasi kromosom X tapi tidak menunjukkan
bukti-bukti klinis dari mutasi tersebut, tetapi mereka dapat menurunkan sindrom
ini pada keturunan mereka.
5. Penyebab
Retardasi Mental dan Sindrom Down
1. Faktor Prenatal
Beberapa
kasus retardasi mental disebabkan oleh infeksi atau penyalahgunaan obat selama
ibu mengandung. Penggunaan berat alkohol pada perempuan hamil dapat menimbulkan
gangguan pada anak yang mereka lahirkan yang disebut dengan fetal alcohol
syndrome. Faktor-faktor prenatal lain yang memproduksi retardasi mental adalah
ibu hamil yang menggunakan bahan-bahan kimia, dan nutrisi yang buruk. (Durand,
2007).·
Penyakit
ibu yang juga menyebabkan retardasi mental adalah sifilis, cytomegalovirus, dan
herpes genital. Komplikasi kelahiran, seperti kekurangan oksigen dan cidera
kepala, menempatkan anak pada resiko lebih besar terhadap gangguan retardasi
mental. Kelahiran premature juga menimbulkan resiko retardasi mental dan
gangguan perkembangan lainnya. Infeksi otak, seperti encephalitis dan
meningitis juga dapat menyebabkan retardasi mental. Anak-anak yang terkena
racun, seperti cat yang mengandung timah, juga dapat terkena retardasi mental.
(Nevid, 2003)
2. Faktor Psikososial
Seperti
lingkungan rumah atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi
intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab
atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental. (Nevid, 2002)·
Anak-anak
dalam keluarga yang miskin mungkin kekurangan mainan, buku, atau kesempatan
untuk berinteraksi dengan orang dewasa melalui cara-cara yang menstimulasi
secara intelektual akibatnya mereka gagal mengembangkan keterampilan bahasa
yang tepat atau menjadi tidak termotivasi untuk belajar
keterampilan-keterampilan yang penting dalam masyarakat kontemporer.
Beban-beban ekonomi seperti keharusan memiliki lebih dari satu pekerjaan dapat
menghambat orang tua untuk meluangkan waktu membacakan buku anak-anak,
mengobrol panjang lebar, dan memperkenalkan mereka pada permainan kreatif.
Lingkaran kemiskinan dan buruknya perkembangan intelektual dapat berulang dari
generasi ke generasi (Nevid, 2002).·
Kasus
yang berhubungan dengan aspek psikososial disebut sebagai retardasi
budaya-keluarga (cultural-familial retardation). Pengaruh cultural yang mungkin
memberikan kontribusi terhadap gangguan ini termasuk penganiayaan,
penelantaran, dan deprivasi sosial. (Durand, 2007).
3. Faktor
Biologis
Ada 2 pengaruh dalam faktor biologis
yang menyebabkan retardasi mental yaitu :
1. Pengaruh genetik
Kebanyakan peneliti percaya
bahwa di samping pengaruh-pengaruh lingkungan, penderita retardasi mental
mungkin dipengaruhi oleh gangguan gen majemuk (lebih dari satu gen) (Abuelo,
1991, dalam Durand, 2007)
Salah satu gangguan gen
dominan yang disebut tuberous sclerosis, yang relatif jarang, muncul pada 1
diantara 30.000 kelahiran. Sekitar 60% penderita gangguan ini memiliki
retardasi mental (Vinken dan Bruyn, 1972, dalam Durand 2007).
Phenyltokeltonuria
(PKU) merupakan gangguan genetis yang terjadi pada 1 diantara 10.000 kelahiran
(Plomin, dkk, 1994, dalam Nevid, 2002). Gangguan ini disebabkan metabolisme
asam amino Phenylalanine yang terdapat pada banyak makanan. Asam Phenylpyruvic,
menumpuk dalam tubuh menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat yang
mengakibatkan retardasi mental dan gangguan emosional.
2. Pengaruh kromosomal
Jumlah
kromosom dalam sel-sel manusia yang berjumlah 46 baru diketahui 50 tahun yang
lalu (Tjio dan Levan, 1956, dalam Durand, 2007). Tiga tahun berikutnya, para
peneliti menemukan bahwa penderita Sindroma Down memiliki sebuah kromosom kecil
tambahan. Semenjak itu sejumlah penyimpangan kromosom lain menimbulkan
retardasi mental telah teridentifikasi yaitu Down syndrome dan Fragile X
syndrome.
6. Penanganan
Retardasi Mental
1. Pendekatan
Medis
Penggunaan Ritalin
efektif untuk mengurangi perilaku antisosial pada anak-anak dan remaja yang
mengalami gangguan tingkah laku.
2. Pendekatan
Behavioral
Pendekatan ini
mendasarkan pada prosedur operant conditioning. Misalnya, Program penanganan
residential, yang menetapkan aturan dengan jelas terhadap anak-anak. Mereka
akan diberikan reward untuk perilaku yang tepat dan hukuman untuk perilaku yang
tidak tepat.
3. Pendekatan
Kognitif-Behavioral
. Penanganan
anak dengan gangguan tingkah laku dilakukan dengan Terapi Kognitif Behavioral,
yaitu melatih anak dengan gangguan tingkah laku untuk berpikir bahwa konflik
sosial adalah masalah yang dapat diselesaikan dan bukan merupakan tantangan
terhadap kejantanan mereka, yang harus dibuktikan dengan kekerasan. Anak-anak ini
dilatih menggunakan keterampilan calming self talk, yaitu teknik untuk berpikir
& berbicara kepada diri sendiri, tujuannya adalah menghambat perilaku
impulsif, mengendalikan kemarahan, dan mencoba solusi yang tidak mengandung
kekerasan dalam menghadapi konflik sosial.
4. Pendekatan Keluarga-Lingkungan (Family ecological approach).
Pendekatan ini
dikembangkan oleh Hanggeler, yang didasarkan pada teori ekologis dari Urie
Bronfenbrenner. Pendekatan ini meyakini bahwa anak berada dalam berbagai sistem
sosial (keluarga, sekolah, hukum, komunitas, dll). Ia menekankan bahwa
anak-anak/remaja yang melanggar peraturan itu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
sistem sosial yang berinteraksi dengan mereka. Teknik yang digunakan adalah
berusaha mengubah hubungan anak dengan berbagai sistem, untuk menghentikan
perilaku dan interaksi yang mengganggu.
